RZNEWS – Penjagaan kilang minyak agar tetap andal dan mampu berproduksi normal bukanlah pekerjaan mudah dan aman. Namun bagi Perwira dan Pertiwi PT Pertamina Patra Niaga Unit Dumai adalah kewajiban dan tugas mulia untuk mengawal dan memastikan ketahanan pasokan energi bagi negara.
Kilang Dumai berperan dalam pengolahan dan penyediaan energi, dan di setiap aktivitas pengolahan, penyimpanan maupun pemeliharaan serta penanganan bahan hydrokarbon membutuhkan pengendalian risiko yang konsisten dan berkelanjutan.
Satu potensi bahaya kecil pada kilang minyak apabila tidak dapat dikendalikan maka dapat berkembang menjadi insiden yang berdampak pada manusia, fasilitas, lingkungan dan keberlanjutan operasi.
Perwira PPN Refinery Unit Dumai Bagian Utility Husni Mubarak menjelaskan bahwa prosedur ketat dijalankan dalam setiap lini pelaksanaan operasi di area kilang minyak ke seluruh pekerja dan mitra. Hal ini bertujuan agar tidak ada kesalahan baik yang kecil maupun beresiko besar.
Karakteristik dan potensi risiko industri kilang secara terus menerus dikampanyekan agar nihil insiden. Diantaranya, bahan mudah terbakar, yakni kilang berpotensi kebakaran dan ledakan apabila terjadi pelepasan hidrokarbon dan terdapat sumber penyalaan.
Husni melanjutkan, proses bertekanan dan bertemperatur tinggi juga menjadi potensi risiko di areal kilang yang terjadi akibat kegagalan peralatan atau penyimpangan kondisi operasi.
Potensi risiko lainnya yang bisa saja terjadi di kilang karena pekerjaan berisiko tinggi dengan pekerjaan panas, pembukaan peralatan atau pipa, pengangkatan beban dan pekerjaan di ruang terbatas.
Selanjutnya, dampak lingkungan yang meliputi potensi tumpahan, emisi dan limbah dari kegiatan operasional.
Sebagai upaya menjaga operasional kilang minyak yang berlokasi di Jalan Putri Tujuh Kecamatan Dumai Timur Kota Dumai ini, Perwira Pertiwi PPN Kilang Dumai menerapkan Piramida Pengendalian Risiko agar semakin efektif dan tinggi tingkat pengendalian.
Upaya dijalankan, lanjut Husni, diantaranya ialah dengan melakukan eliminasi atau pemetaan untuk menghilangkan bahaya dan kondisi berisiko sebisa mungkin. Kemudian, Substitusi atau mengganti dengan bahan, proses atau dengan teknologi yang lebih aman.
“Salah satu upaya kami lakukan ialah rutin dan berkala melaksanakan kegiatan maintenance atau pemeliharaan berskala kecil dan besar. Selain itu juga dengan penggantian alat lama yang berisiko tinggi dengan peralatan baru,” kata Husni, pada Kamis (8/10/2026) lalu.

Rekayasa teknologi juga dijalankan dalam rencana pengendalian risiko pada kilang minyak, meliputi pengendalian melalui perancangan dan modifikasi teknis atau enginering.
Selanjutnya pengendalian administratif terkait standar operasional prosedur, pelatihan, inspeksi dan pengawasan. Tidak kalah penting dalam pengawalan kilang yang berkontribusi 16,5 persen cadangan bahan bakar minyak ke negara ini adalah prosedur ketat soal alat pelindung diri atau APD bertujuan melindungi pekerja dan individu dari sisa risiko yang tidak dapat dihilangkan.
Pertamina di Unit Dumai juga memberlakukan 10 elemen Corporate Life Saving Rules (CLSR), yaitu pedoman atau aturan keselamatan kerja yang diterapkan untuk mencegah kecelakaan kerja fatal dan melindungi keselamatan seluruh pekerja, mitra kerja, kontraktor, serta tamu perusahaan.
CLSR mencakup 10 elemen utama yang berfokus pada aktivitas kerja berisiko tinggi, yaitu Tools & Equipment atau peralatan dan perlengkapan kerja yang layak dan aman, Line of Fire yaitu berada di posisi atau lintasan energi berbahaya,
Hot Work yaitu pekerjaan panas yang berpotensi memicu api atau ledakan dan Confined Space atau pekerjaan di ruang terbatas.
Kemudian lagi, Powered System atau sistem berenergi dan isolasi sumber energi, Lifting Operation atau Operasi pengangkatan beban berat, Working at Height yaitu bekerja di ketinggian, Ground Disturbance Work yaitu pekerjaan penggalian tanah, Water-Based Work Activity atau aktivitas pekerjaan di atas atau di dalam air dan Land Transportation atau transportasi darat dan keselamatan berkendara.
Turn Around dan Dampak Ekonomi
Program maintenance atau pemeliharaan berskala besar atau Turn Around (TA) 2026 juga baru dilaksanakan Pertamina Kilang Dumai pada awal 1 Mei 2026 besok dan dijadwalkan berlangsung selama 42 hari.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai Tengku Muhammad Rum menjelaskan bahwa kegiatan TA ini untuk memperbaiki performa kilang dan peremajaan peralatan, sebagai komitmen perusahaan menjaga keandalan kilang serta menjaga kontinuitas operasi demi mendukung ketahanan energi nasional.
Dalam pelaksanaan TA ini, seluruh pekerja terlibat diingatkan untuk senantiasa mengutamakan keselamatan kerja dengan mematuhi seluruh prosedur HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Ini bentuk komitmen Perusahaan menjadikan aspek HSSE sebagai fondasi fundamental operasional dan prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Selain itu, pelaksanaan TA 2026 Kilang Dumai merupakan bagian dari upaya Perusahaan dalam menjaga rantai pasok energi, seiring dengan peran strategis Kilang Dumai dalam penyediaan 16,5 persen kebutuhan energi nasional, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).
Momen strategis menjaga keandalan operasi kilang ini juga turut berdampak baik dalam menggerakkan ekonomi warga setempat.
“Kehadiran belasan ribu tenaga kerja TA turut berkontribusi menggerakan roda perekonomian Dumai dari berbagai sektor, mulai dari penginapan, transportasi, laundry, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal,” kata Rum kala itu.
Selama 42 hari pelaksanaan TA, Kilang Pertamina Dumai juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal melalui penyediaan kantin pekerja untuk memudahkan konsumsi harian pekerja TA dengan lokasi di area parkir Kantor Kuning Kilang Dumai di Jalan Raya Kilang Minyak Putri Tujuh.
Sebanyak 14 UMKM lokal turut menyemarakkan Kantin TA Mayor 2026 yang disediakan oleh Kilang Pertamina Dumai.
Beragam pilihan makanan dan minuman disediakan pelaku UMKM, mulai dari menu sarapan, makan siang, hingga makan malam selama pelaksanaan TA Kilang Pertamina Dumai berlangsung.
Selama periode 2 Mei hingga 6 Juni 2026, para pelaku UMKM yang terlibat dalam Kantin TA berhasil membukukan total transaksi lebih dari Rp167 juta dan pencapaian ini menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi yang tercipta melalui pelaksanaan TA sekaligus menjadi peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha lokal.
Selain dirasakan pelaku UMKM, dampak ekonomi dari pelaksanaan TA juga turut dirasakan para pedagang musiman berjualan di sepanjang kawasan sekitar kilang dan wilayah Dumai sekitarnya.
Kemudian, dampak ekonomi sektor jasa, seperti penyewaan transportasi dan perhotelan, dibuktikan dengan meningkatnya hunian hotel, rumah sewa, hingga kos-kosan di Dumai.
Sejumlah pelaku UMKM yang dilibatkan dalam Kantin kegiatan TA Pertamina Dumai mengaku memperoleh pendapatan Rp3 juta perhari dari awalnya Rp30 ribu.
Salah satu, Anisa mengapresiasi atas dukungan dan bantuan diberikan Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai karena keterlibatan dalam perkantinan TA yang telah membantu menggerakkan perekonomian keluarganya.
“Terimakasih Pertamina yang sudah bisa membantu kami melalui UMKM. Kami sangat terharu karena memang agak susah ekonomi, tapi dengan adanya ini agak terbantu karena suami sudah tak bekerja,” ungkapnya.

Hasil dari penjualan selama di Kantin TA akan digunakan Anisa kembali sebagai modal untuk membuka kedai harian di rumah menjual kebutuhan harian seperti sayur-mayur dan ikan segar. rz












